Bloor Street West

Bloor Street West
Enjoying the first suns at the beginning of Spring

Saturday, December 8, 2007

Gmail - Maju kuno Apa Bedanya

Gmail - Maju kuno Apa Bedanya

Maju? Kuno? Apa bedanya?
Anwari Doel Arnowo
Sabtu, 08 Desember 2007

Suatu saat seseorang mengatakan kepada temannya bahwa si G yang sudah berumur itu kuno, baik jalan pikirannya maupun cara hidupnya. Padahal tidak seorangpun yang pernah mengamatinya, melihat sebuah halangan berupa apapun bentuknya, yang menyebabkan si G mengambil sikap hidup seperti itu. Dari kecukupan pemilikan uang tunai serta kecerdasan otak, dia memilikinya. Tetapi dia tetap tinggal dikediamannya yang sama sejak duapuluh tahun yang lalu dan juga tidak pernah membeli mobil lain, selain yang telah dimilikinya sejak sepuluh tahun yang lalu. Dia tidak segan menggunakan kendaraan umum.
Berbahagiakah G?? Saya melihatnya dia biasa-biasa saja.
Ke luar negeri dia pergi juga ke mana-mana, ke dalam negeri dia juga pernah ke mana-mana. Pergaulannya lumayan luas.
Jadi apa pasal? Tak ada!!
Yang jelas dia menggunakan barang-barang yang amat berguna bagi dia. Misalnya saya lihat telepon genggamnya juga model yang lama dan dia bisa mengendalikan semua urusannya dengan menggunakan barang tua itu.
Semua urusan beres sama persis seperti beresnya semua urusan seorang anak muda, si H, yang menjadi eksekutip sebuah perusahaan besar.
H, si anak muda yang gajinya sekitar dua puluh juta Rupiah sebulan itu, menggunakan telepon yang paling modern dan paling mutakhir.
Mengendarai mobil sedan yang 2000 cc dan mempunyai sebuah rumah mungil di sebuah kompleks perumahan yang sedikit di luar pusat bisnis. Profil anak muda yang seperti ini amat diidamkan oleh banyak anak muda yang lain pada jaman sekarang. Ada rumah, ada mobil dan ada peralatan elektronik agar dapat disebut sebagai seorang yang sukses. Bedanya, anak muda ini kalau memang hanya itu pendapatannya dalam sebulan, maka dapat dipastikan adanya hubungan keterikatannya dengan yang disebut: pawn the future – menggadaikan masa depan. Barang-barang yang dimilikinya dan digunakannya dalam hidup sehari-hari itu hanyalah barang ambil sekarang dan bayar kemudian, dan urusan bunga uang adalah masalah mudah. Kata Bank yang membiayainya adalah: anda membayar sesuai dengan kemampuan anda, tentukan sendiri besarnya uang muka dan angsurannya setiap bulan. Di negara Kanada ada banyak sekali penawaran barang dengan kata-kata membujuk: No payment until 2008!! (Tidak usah membayar sampai tahun 2008). Awas, ini semua adalah akal orang berdagang, dagang uang. Kenapa bukan dagang barang biasa?
Karena yang berdagang disini adalah money trader – pedagang uang yang sudah biasa selalu bersembunyi dibelakang barang-barang dagangan yang sifatnya konsumtip.
Mumpung (selagi, senyampang) calon pelanggan sedang tergila-gila kepada barang dagangan konsumtip, mereka akan lengah terhadap dagangan uang, yaitu cara-cara pembayarannya. Di dalam perjanjian jual beli, hal ini bisanya dituangkan dalam pasal-pasal yang agak rumit kata-katanya dan dicetak menggunakan huruf-huruf kecil (small prints) yang tidak mudah dibaca. Karena ingin amat segera memiliki barangnya, maka perjanjian jual beli ini ditandatangani. Padahal di dalamnya ada pasal-pasal penting yang menunjuk jelas: ada sanksi kalau pembayaran angsuran terlambat.
Dan juga akan adanya perubahan bunga bank yang harus ditaati dan lain-lain jebakan kata-kata yang ditulis oleh lawyer, yang bertindak sebagai ahli hukum perusahaan penjual uang. Itulah sebabnya banyak dipakai ungkapan sehari-hari: Lawyer is Liar (Pengacara adalah Tukang Bohong).
Anak muda itu kalau bernasib baik dan karier terus menanjak stabil, maka mungkin tidak mengalami keuangan yang patut dirisaukan. Tetapi adakah karier yang seperti itu?
Saya pernah mengibaratkan jalan hidup seseorang itu biasanya akan seperti kurva sinus-cosinus. Itu yang ideal.
Di dalam gerak seperti tergambar di dalam kurva ideal itu ada bahagian kurva yang menurun dan mencapai titik nadir yang maksimum negatipnya. Kalau hidup dia mengalami hal seperti demikian, sedang dia masih dalam keadaan mendatar seperti digambarkan, maka dia akan mengalami apa yang disebut kondisi kejut, yang biasanya mengakibatkan panik. Panik ini terjadi karena dia tidak siap dengan keadaan yang memaksa untuk mengikuti kurva menurun itu. Ikut turun, berarti dia akan mungkin harus mau untuk mengganti kendaraan sedannya dan mulai sebagai pengguna angkutan umum. Mungkin juga dia harus mengganti telepon genggamnya dengan yang agak murah. Semua ini amat menurunkan gengsinya. Gengsi? Iya!
Kok gengsi??
Yang pokok dia tidak siap menghadapi hal ini. Apakah bisa sang eksekutif muda itu nanti di hari tuanya menyamai cara hidup dan sikap hidup si G tersebut terdahulu? Itu tanda tanya besar!!
Saya pernah menanyakan kepada beberapa orang ABG (Anak baru Gede atau Anak Babe Gue?) begini: “Sanggupkah kamu, hanya demi mencoba mentalmu kuat atau tidaknya saja, kamu dibawai uang tunai sebanyak lima juta Rupiah dan masuk ke dalam sebuah pusat belanja, tetapi ketika keluar uang lima juta Rupiah tidak berkurang?”
Saya menanyakannya kepada beberapa orang dan jawaban yang saya peroleh, sekitar delapan puluh persen kira-kira sama: “Wah sama juga dengan bohong, dong!”.
Yang berani bilang: “Bisa!” hanya lima persen. Tentu saja survey amatiran yang saya lakukan itu tidak dapat dikatakan sebagai pencerminan sikap hidup ABG.
Yang menarik adalah percakapan yang sengaja saya buat dan menggiring si G untuk mengemukakan pendapatnya. Saya tanya soal telepon dan mobilnya. Ternyata dia menjawab: “Makin tua umur saya, maka makin berkurang keperluan dan kebutuhan saya. Naik mobil ini Toyota Crown 1996 dan naik mobil Mercedes Benz Typ E yang baru, tujuan akhirnya dapat dicapai dengan sama mudahnya. Tetapi secara biaya itu amat lain sekali pembelanjaannya. Telepon juga demikian, adalah sama halnya apabila saya menggunakan Nokia 9000 Communicator dan menggunakan type Cellular Phone yang ada cameranya dan fasilitas dan feature macam-macam serta beraneka jenisnya?. Saya toh hanya bisa berhubungan dengan suara maupun dengan pesan singkat. Sama saja kok! Singkatnya cost of money – beban keuangan nya jauh lebih rendah!!”
Sikap hidup seperti inilah yang membuat saya berkesimpulan bahwa: Uang adalah alat. Alat bayar!! Janganlah sekali-kali membuat uang berkesempatan berbuat sebaliknya. Uang yang memberi perlakuan kepada kita sebagai alat.
Saya pernah membaca pengalaman seorang Indonesia yang mempunyai rekan sekerja seorang asal China, yang sama-sama bekerja di sebuah perusahaan Amerika di sebuah kota internasional yang terletak di Amerika Serikat.
Meskipun status kedudukannya dan status pendapatannya setara, mereka menempuh hidup sehari-harinya jauh amat berlainan. Si orang Indonesia bercerita bahwa dia tidak bisa meniru tata cara hidup orang tersebut, yang nota bene status keuangannya hampir sama peringkatnya. Temannya itu makan siang karena membawa bekal dari rumah yang disiapkannya sendiri pada pagi hari sebelum keberangkatannya ke tempat kerja. Dia tidak pernah menggunakan taksi, biarpun hari sedang bercuaca dingin sekali dan bersalju tebal. Dia selalu mencapai tempat kerja dengan berjalan kaki, setelah turun dari subway train - kereta bawah tanah. Pada suatu kesempatan dia pernah mengunjungi tempat tinggal teman kerjanya ini, dan terbukti hanya sebuah kamar kecil dengan tempat tidur yang amat sederhana dan kitchenette-dapur kecil yang satu ruangan dengan tempat tidurnya.
Semua itu terlalu amat sederhana untuk ukuran orang Indonesia, apalagi yang memang lumayan mampu secara perhitungan ekonomi, berada di negeri orang yang kondisinya makmur, Amerika Serikat.
Dia melihat bahwa temannya yang asal China itu memang mempunyai sifat seperti itu, bukan dibuat-buat dan atau terpaksa berbuat demikian. Bukan pura-pura atau karena seperti sebutan orang Indonesia yang menggunakan kata: sinting. Yang penting, kalau orang seperti ini disebut seorang yang miser – kikir dan pelit, bukankah itu tidak melanggar peraturan apapun?
Bukankah perbuatan itu adalah perbuatan yang sama sekali tidak bisa digolongkan sebagai perbuatan kriminal?
Apa yang bisa didapat dari kedua conto, yang satu di Indonesia dan yang satunya dialami oleh seorang Indonesia dan tinggal di Amerika Serikat? Kedua conto itu patut direnungkan untuk dapat diambil kegunaannya, bagi siapa saja yang mau, untuk mengubah sikap hidup, sebelum menyatu dengan tabiat yang konsumtip dan pasti akan merugikan diri sendiri. Gunakanlah akal sehat dan gunakanlah suara hati, yang sesuai dengan diri kita masing-masing, agar tidak menyesali diri di hari tua nanti.

Anwari Doel Arnowo
Jumat, 07 Desember 2007 - 18:27:58
---ooo000ooo---

No comments: